SHARE

Coba lihat yang digunakan oleh perempuan-perempuan di gambar itu. Kira-kira apa sih itu? Mahkota? Ya, mahkota itu namanya Siger. Tapi percaya ga sih, di Lampung, kamu bisa lihat mahkota itu di mana mana!

Provinsi Lampung adalah sebuah provinsi yang terletak di bagian paling selatan pulau Sumatra. Kalau kamu mau ke kota-kota di pulau Sumatra seperti Medan, Palembang, Padang atau kota lainnya melalui jalur laut, kamu pasti bakal singgah di Lampung. Ini karena Lampung adalah the mouth of Sumatra atau gerbang pulau Sumatra. Kalau kamu berangkat dari pelabuhan Merak, Banten untuk menyebrang ke Sumatra, kamu bakal memasuki Sumatra melalui Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Nah, sesampainya kamu di Pelabuhan Bakauheni, kamu bakal disambut dengan megahnya mahkota ini. Ets, tapi bukan di kepala perempuan lho, melainkan sebuah menara, atau lebih dikenal dengan Menara Siger.

Di Lampung, Siger bisa kamu lihat di mana mana. Siger biasanya dipasang (berbahan logam) di atas gerbang atau pintu masuk sebuah bangunan seperti sekolah, kantor, rumah, . Selain itu, siger juga dapat ditemukan di motif-motif batik khas Lampung. Dan juga, semua logo komunitas, organiasi, atau instansi yang ada di Lampung pasti ada sigernya. Hal ini menandakan bahwa Siger adalah lambang kebesaran Lampung, lambang identitas yang membedakan Lampung dengan daerah lainnya.

Lalu sebenarnya, apasih makna Siger itu? Siger sebenarnya adalah mahkota yang digunakan perempuan pada pakaian adat lampung yang biasanya digunakan pada saat upacara adat Lampung atau pada acara pernikahan orang Lampung. Siger memiliki 2 jenis, yaitu siger 7 lekuk dan siger 9 lekuk. Siger dengan 7 lekukan adalah lambang masyarakat adat Saibatin, yaitu masyarakat pesisir di Lampung. 7 lekukan ini melambangkan 7 marga yang ada di masyarakat pesisir. Sedangkan Siger dengan lekuk 9 adalah lambang masyarakat adat Pepadun. 9 lekukan ini berarti 9 marga yang bersatu membentuk Abung Siwo Megou (Abung Sembilan Marga). Dua masyarakat adat yang mempunyai siger berbeda inilah gambaran dari semboyan Lampung, Sai Bumi Ruwa Jurai, yang artinya satu tanah dua adat. Mesikpun dua adat ini berbeda, tapi tetap 1 tanah, tanah Lampung.

Konon siger adalah perwujudan seekor burung elang yang mengepakkan sayapnya. Perwujudan ini berarti keluasan atau ketinggian adat. Siger yang dikenakan di kepala perempuan menunjukkan bahwa adat lampung sangat meninggikan perempuan.

Dalam legenda masyarakat Lampung, diceritakan ada sebuah pohon besar dan tinggi tempat hinggapnya seekor elang yang ganas. Elang ini membuat takut masyarakat, sehingga ditunjuklah 9 petarung untuk menaklukkan seekor elang ganas ini. Namun, 7 di antaranya gugur dan sisanya selamat. Kemudian, masyarakat membuat sebuah lambang dengan 7 lekukan untuk mengenang 7 petarung yang gugur. Sedangkan sebagian masyarakat yg lain membuat lambang dengan 9 lekukan untuk mengenang semua petarung itu. Konon ini adalah asal-usul siger.

Sementara menurut laman Wikipedia, Siger pada suku Lampung memiki makna ada tujuh adok/gelar pada masyarakat pesisir yaitu Suttan/dalom, Raja jukuan/dipati, Batin, Radin, Minak, Kimas dan Mas/inton, gelar/adok ini hanya dapat digunakan oleh keturunan lurus saja, yang mana masih memiliki keterikatan dengan kerajaan. Sehingga apabila bukan anak raja atau tidak ada hubungan dengan kerajaan, maka tidak berhak menggunakan gelar/adok raja, hal tersebut juga berlaku untuk gelar/adok lainnya.

Siger sudah sangat melekat dengan Lampung. Mahkota kebesaran Lampung ini adalah ikon yang sudah sangat familiar bagi masyarakat Lampung.  Pemandangan Siger ada di mana-mana merupakan pemandangan unik yang jarang ditemukan di daerah lain. Nah, jadi jangan bingung lagi sama apa yang ada di setiap bangunan kalau kamu ke Lampung. Iya, itu namanya Siger!

(Kontributor: Rega Afri Setya, Mahasiswa Ilmu Komunikasi – Universitas Diponegoro)